Agama Samawi Penuh DISKRIMINASI, bahkan dari Sejak Manusia Dilahirkan, Terlahir sebagai Kasta Umat Vs. Kasta Nabi

Kasta Nabi dan Kasta Umat dalam Agama Samawi Bersifat DILAHIRKAN, Bukan Dicapai Lewat Usaha Meritokrasi Egaliter

Diskriminasi yang Dilahirkan Bukan Lagi Sekadar Melahirkan Diskriminasi, Ketidakadilan Agama Samawi

Seseorang menjadi Mulia, karena Perbuatan dan Perjuangannya, bukan karena Kelahiran, Itulah Ajaran Sang Buddha

Question : Alasan mengapa saya tidak cocok, bahkan alergi, terhadap agama samawi, karena ada yang dilahirkan sebagai nabi dan ada yang dilahirkan sebagai umat-pengikut atau orang biasa. Itu adalah diskriminasi yang dilahirkan. Itu sama seperti mereka hendak berkata bahwa bila ada seserang diberi kasta sebagai kasta budak, maka budak dilahirkan ataupun melahirkan budak, tanpa bisa dibebaskan dari perbudakan generasi demi generasi. Bila ada kasta bangsawan, maka bisa jadi ia memang bangsawan sejak dilahirkan dan karena dilahirkan di tengah keluarga bangsawan, namun apakah ia selamanya stagnan, tidak bisa merosot-menurun ataupun menapak ke tingkat derajat yang lebih tinggi? Sama seperti orang miskin, mungkin ia terlahir miskin, namun apakah artinya ia akan miskin selamanya? Itu menegasikan peran perjuangan. Bagaimana dengan di Agama Buddha, apakah Buddha juga dilahirkan sifatnya?

KORUPSI MORAL seorang KORUPTOR DOSA, Dosa-Dosa pun DIkorupsi

Makna KORUPSI MORAL, Moral pun Dikorupsi

Question : Yang dimaksud dengan “korupsi moral”, itu artinya seperti apakah?

Dahsyatnya Ajaran SANG BUDDHA : Boleh Mempertanyakan dan Bebas Mengkritisi

Miskin-Keringnya Ajaran Agama Samawi : Haram Hukumnya Mempertanyakan dan Memakai Otak untuk Berpikir Kritis

Question : Yang namanya junjungan atau teladan, harusnya lebih baik standar-moralnya ketimbang yang menjadi pengikut atau umat. Tapi di islam berbeda, nabi yang para muslim junjung, justru lebih mabok, lebih tergila-gila, lebih demam, dan lebih kecanduan “pengampunan dosa” daripada para umatnya. Artinya, nabi para muslim itu dosa-dosanya lebih menggunung daripada dosa-dosa para muslim yang menjadi pengikutnya. Sebenarnya para muslim itu hendak meneladani kebusukan-moral sang nabi, ataukah apa? Bukankah menjadi tidak mengherankan, bila kemudian kita menemukan kabar berita maupun realita keseharian dimana para muslim yang melakukan aksi kejahatan maupun korupsi?

Peng-Kurban-an Sang Buddha terhadap Putera TunggalNya, Rāhula, Pengorbanan TANPA DARAH

Peng-Kurban-an Ibrahim / Abraham terhadap Putera Tunggalnya, Ismail / Ishaq, Pengorbanan PENUH PERTUMPAHAN DARAH

Question: Di dalam agama samawi-abrahamik, Ibrahim mengkurbankan nyawa hidup anak kandungnya untuk disembelih, Ismail. Namun, Ibrahim tidak bersedia mengkurbankan harta miliknya yang terbesar, yakni nyawanya sendiri untuk disembelih, karena Ibrahim telah dibutakan oleh EGO yang tergila-gila oleh mimpi bersenang-senang dan bersetubuh dengan puluhan bidadari di sorga. Jika Sang Buddha, apakah wujud pengorbanannya, apakah ada kisah hidup Sang Buddha yang relevan dengan kisah kurban-mengkurbankan anak kandung?

Pandangan Salah dan Keyakinan Keliru, adalah yang Paling Tercela dan Berbahaya dari Segala Hal

Ngakunya Agama “CINTA DAMAI”, tapi Isi Ajarannya “BUNUH”, “PERANGI”, “PENGGAL”, “PANCUNG”, “TUMPAHKAN DARAH”

Question: Bila ajaran semacam berikut ini disebut “cinta dsmai”, maka yang disebut ajaran “teror!s” akan seperti apakah wujudnya? Hadist Tirmidzi No. 2533 : “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN BAHWA MUHAMMAD RASUL ALLAH, menghadap kiblat kami, memakan sembelihan kami, dan melakukan shalat dengan kami. Apabila mereka melakukan hal tersebut, niscaya kami diharamkan MENUMPAHKAN DARAH dan MERAMPAS HARTA mereka.”

Agama Buddha IS and ALWAYS THE BEST, namun mengapa Minoritas?

Menikmati dan Mencandu “PENGHAPUSAN DOSA” artinya Menikmati serta Kecanduan “DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN”

Membenci Tanpa Alasan, semata karena Diharuskan demikian oleh Kitab Agama Samawi, Ciri Agama KEBENCIAN

Question: Dari penilaian saya secara jujur dan objektif, hukum karma atau hukum sebab-akibat, merupakan sistem merit egaliter yang paling adil dan paling ideal. Pertanyaannya, mengapa banyak orang yang justru memilih menjadi umat nonBuddhis? Kita ambil contoh lainnya, Ibrahim menyembelih Ismail, anak kandungnya, disebutkan oleh umat agama samawi sebagai bentuk pengorbankan-diri, yakni mengorbankan apa yang paling dikasihi oleh Ibrahim. Itu penilaian orang yang buta nuraninya.

Yang paling dicintai oleh Ibrahim, ialah nyawa hidupnya sendiri, bukan nyawa sang anak. Bila betul Ibrahim hendak berkurban dan mengorbankan apa yang PALING IA CINTAI, maka semestinya ia mengorbankan nyawanya sendiri demi menebus nyawa sang anak, bukan sebaliknya, mengorbankan nyawa sang anak demi kesenangan sang ayah yang ingin bersetubuh dengan bidadari di surga. Alih-alih memilih masuk neraka demi menyelamatkan sang anak, Ibrahim yang tergila-gila ingin bersenang-senang dengan bidadari di surga, secara sadar memilih untuk mengorbankan apa yang TIDAK LEBIH PENTING dari nyawa maupun EGO dirinya sendiri, yakni nyawa milik sang anak.