Agama PENGHAPUSAN DOSA Vs. Animisme dan Dinamisme, manakah yang Lebih Berbahaya?

SENI PIKIR & TULIS

Yang Berbau Tuhan, Dihalalkan, namun Tuhan Versi Agama yang Mana yang Benar? Tuhan hanya Ada Satu, sementara Agama Majemuk, Berkah ataukah menjadi Petaka Kemanusiaan?

Tuhan Berbentuk apakah, Batu, Kitab, Tembok, Kubah, ataukah Langit? Uang adalah Ciptaan Tuhan. Artinya, Menyembah Uang = Menyembah Tuhan (???). Manusia adalah Ciptaan Tuhan. Artinya pula, Menyakiti Manusia Lainnya = Menyakiti Tuhan (!!!)

Kepercayaan animisme maupun dinamisme, dilarang, dianggap sebagai agama sesat, sekalipun bisa jadi umatnya toleran dan tidak radikal, atau bahkan baik hati dan budiman. Ideologi komun!sme dan l!beralisme, dibrendel, dimusuhi, diperangi, disensor dan dihanguskan, bahkan terancam dibunuh, sekalipun bisa jadi pengikutnya memiliki perangai yang penuh pengertian, berjiwa lembut, dan penuh kemanusiaan. Mereka, para kepercayaan dan ideologi tersebut, dinyatakan sebagai “terlarang” serta “sesat”, semata karena dinilai “tidak ber-Tuhan”, sebaik apapun umat mereka.

Jangan Bersikap Seolah-olah hanya Anda yang Merasakan Duka Derita

SERI SENI HIDUP

Bahaya Dibalik Sikap Memungkiri Kebenaran tentang Hidup adalah Duka (Tidak Memuaskan dan Tidak akan Pernah Terpuaskan)

Dokter, ada yang salah ini dengan tubuh saya, sakit.” “Pasienku yang manis dan tersayang, justru bila kita tidak ada derita barulah itu artinya bermasalah, alias sudah ‘game over’.” (Dikutip dari ceramah Ajahn Brahm)

Tampaknya dan pastinya bukan hanya penulis seorang diri, yang pernah mengenal seseorang atau bahkan memiliki anggota keluarga, yang dalam keseharian, bersikap seolah-olah hanya dirinya seorang diri yang dapat merasakan duka, pahit-getir dan derita kehidupan. Istilah “duka”, bersumber dari Bahasa Pali yang bernama “dukkha”, yang bermakna “derita yang ditimbulkan oleh ‘kebenaran mengenai corak kehidupan’ perihal tiada pernah ada kata terpuaskan”, yang bila kita singkat sebagai “tidak memuaskan” dan “tidak pernah terpuaskan”.

Tips Melatih Alam Sadar untuk Mengatasi Dominasi Alam Bawah Sadar

SENI PIKIR & TULIS

Didalam ALAM SADAR Kita BERDAYA SEBAGAI DIRI KITA SENDIRI, sementara dalam ALAM BAWAH SADAR Kita TIDAK BERDAYA SEBAGAI KORBAN KEADAAN DAN PENGALAMAN BURUK TRAUMATIK MASA LAMPAU YANG MENGECILKAN HATI

Kiat Praktis Memberdayakan Alam Sadar dalam Rangka Melampaui Deterministik Alam Bawah Sadar yang Merusak Diri

Sebagaimana telah kita ketahui, “alam pikir” terdiri dari “alam bawah sadar” dan “alam sadar”, yang mana keduanya saling menenggelamkan satu sama lain dalam artian tidak dapat eksis di permukaan pikiran disaat bersamaan. Kita dapat memperbaiki data dan program yang tertanam dalam “alam bawah sadar” kita, secara mandiri, swadaya, dan berdaya, lewat kekuatan dibalik “alam sadar”. Tanpa menyadari dan memahami prinsip yang bekerja dibalik “alam pikiran”, kita tidak akan mampu keluar dari jeratan “alam bawah sadar” yang sangat deterministik seolah tidak kompromistis ataupun untuk dinegosiasikan, sekalipun ini adalah hidup dan kehidupan kita sendiri, semata karena “alam bawah sadar” dapat menyaru sebagai “alam sadar”.

Cara Mengatasi Alam Bawah Sadar yang Bermasalah, Kuatkan Alam Sadar

SENI PIKIR & TULIS

Didalam ALAM SADAR Kita BERDAYA, sementara dalam ALAM BAWAH SADAR Kita TIDAK BERDAYA

Latih Penguatan Alam Sadar, Jangan Biarkan Tenggelam oleh Dominasi Alam Bawah Sadar

Bruce Harold Lipton, PhD, nama lengkapnya, seorang biolog sel, dalam artikel berjudul “Bruce Lipton, PhD: The Jump From Cell Culture to Consciousness”, yang sebelumnya telah diterbitkan dalam Journal Integr Med (Encinitas). 2017 Dec; 16(6): 44–50, sebagaimana dapat diakses publik pada https:// www. ncbi.nlm.nih .gov/pmc/articles/PMC6438088/, mengungkap kebenaran ajaran Sang Buddha lewat penemuan serta metode sains yang terus berkembang dan semakin mampu mencatat berbagai fenomena perihal “alam sadar” Vs. “alam bawah sadar”.